Sunday, December 30, 2012

Homesick DN

Aaah gak tau kenapa aku tiba-tiba mellow begini, kangen jaman sekolah dulu, kangen DN, kangen teman-teman, kangen segala keterbatasan disana, kangen guru-guru pengajar, kangen semuanya.
Tiba-tiba aja aku kepikiran buat ngebandingin perasaanku waktu masih jadi anak DN, sama perasaanku setelah menyandingkan gelar alumni. Beberapa pandangan teman-temanku yang kebanyakan negatif tentang DN dan membandingkannya dengan pesantren lain. Padahal tanpa mereka menuturkan semuanyapun aku udah tau luar dalamnya bagaimana, dan tentu saja para alumni lebih tau apapun daripada yang mereka tahu.
"Al, uang SPP lo di DN berapa?"
"Hmm, kemaren sih sekitar 800/bln"
"Mahal banget! Pondok gue tuh ya...... bla..bla...bla."
"What the...., yang nyekolahin gue disana bukan bokap lo kan? Semua administrasi disana bukan bokap lo yang nanggung kan? Yang nyuruh gue sekolah disana bukan elo kan? Gue gak nyangka kalo lo juga punya hak buat berpartisipasi dalam ngebandingin dengan segala keterbatasan pengetahuan lo."
 
Sekolah di DN emang mahal. Of course, i knew it well! Jauh sebelum aku masuk juga menyadarinya, kalau nominal segitu untuk masuk sekolah termasuk mahal. Dari segi kurikulum dan hasil pembelajaran? Kalau dibandingin sama G****r yang pondok modern pasti kita kalah. Kegiatan? Lagi-lagi kalau dibandingin sama G****r juga kalah. Ilmu kepesantrenan? Ya pasti pondok salafi lah pemenangnya. Lalu kenapa aku bertahan dengan serba 'kekalahan' selama enam tahun disana?
Seseorang bertahan pasti memiliki alasan yang kuat. Alasanku sendiri; karena orang tua, karena teman, karena diri sendiri. Orang tua juga sebenarnya hanya menghimbau agar aku mengikuti permintaannya untuk tetap disana, teman-teman sebagai sarana pendukung, dan semua keputusan kembali padaku, aku yang berhak memilih.
Dan pastinya senang ketika keputusan yang dipilih itu memuaskan pada akhirnya. Segudang pengalaman yang bertabur citarasa pun kurasakan disana. Aku memang nggak begitu ngerasain bagaimana begitu pahitnya jadi santri layaknya santri-santri di pondok lain yang posisinya di pelosok kota sampai ke desa. Tapi aku berhak bangga, karena semua pengalaman pahitnya santri nggak harus sama dengan 'mereka'.
Masa-masa labil SMP kulalui semua dengan waktu yang pas. Saat-saat puber, saat-saat penasaran untuk nakal dan merasakan berbagai hukuman, saat-saat jahil, saat-saat alay, sampai saat-saat mencoba mencari jalan keluar dengan pikiran dewasa.
Unforgettable moment, Masa SMP-ku yang harus berdiri serentak satu angkatan di depan pembina upacara saat upacara bendera setiap sabtu pagi, karena salah satu dari kami ada yang dicurigai bercanda kelewatan ketika upacara berlangsung. Tapi anehnya, saat panas terik yang nggak bersahabat sama sekali itu nggak menghalangi kami untuk tetap ketawa karena kebodohan kami. Aku juga ketawa, merasa angkatanku bandel banget, padahal angkatan lain nggak begitu absurd begini. Ho ho ho
Ada lagi, kami harus manjat pager dapur yang tingginya bisa 3x lipat dari ukuran badan dengan berkostum gamis! Itu semua karena kami semua nggak sabar mau makan siang setelah EHB, begitu melihat pintu pagar terbuka kami langsung masuk dan meraung minta makanan. Petugas bukannya mengasih kami makan, malah mengunci dari luar. Terpaksa deh manjat, Wonderwoman bergamispun beraksi....
Masa-masa SMP, dengan posisi sekolah yang di selatan Jakarta pasti nggak begitu ketinggalan aksi gaul dari luar sana. Di saat itu, half of us kebanyakan melewati masa alay. Yang nulis pake 4n9k4 (angka), bEsAr kEcIL BesAr KecIl (besar kecil besar kecil), sama nulis CeLLallUh ChaIIanx BeUdh (Selalu sayang banget). Alhamdulillah, perkembangan alay kami kebanyakan berkurang semenjak masuk SMA karena memilih netral, di saat-saat santri sekolah lain baru meng-alay ketika akhir SMA sampai ke PT. Fyuuuuh~
teman-teman bonamancungku :')
Masa-masa SMA lebih absurd. Ketemu geng yang namanya 'bonamancung' yang isinya nggak lain dari anak kamar sendiri, karena mayoritas suka sama lagu bonamana yang baru-baru banget keluar dari Bband SuJu. Bikin video kecil-kecilan, dari video teman ngigau saat tidur sampai bikin dubbing project untuk pensi terakhir kelas 3 SMA. Sekamar dengan anggota OSIS Pers dan Jurnalistik yang membuatku betah diskusi dengan mereka. Kebanyakan tentang ngebandingin film dan saling merekomendasi film bagus. Satu harapan kami disitu yang ingin sekali Allah kabulkan suatu hari; pertemukan kami lagi nanti dalam satu kru perfilman dengan berbagai divisi. AMIN!
Anggota Bonamancung berubah jadi geng kere ketika makanan di dapur itu TBT, makanan yang nggak begitu kita sukai. Kita nggak punya pilihan buat makan apapun karena uang menipis. Satu-satu hal untuk menutupinya adalah, buka majalah resep makanan dan bergaya ala Upin Ipin saat melihat ayam goreng. "ei-wi-ay-em".
At least, sebenarnya banyak hal yang mau aku utarain, terutama pengalaman-pengalamanku jadi anak DN yang nggak seburuk para santri lain bicarain. Tapi semakin aku pengen utarain semuanya, semakin melankolis jiwaku terarah. Pengen balik ke semua waktu itu meskipun saat-saat itu aku ngerasa tersiksa kalau ketemu guru pengasuhan yang cara ngomongnya pengen aku jadiin samsak hidup-hidup. Mungkin next time aku mau ceritain secara rinci...