RSS

DAY 13: BULLET-POINT MY WHOLE DAY



Jam 9 lebih
Baru sarapan bubur ayam langganan dekat rumah sembari berpikir bakalan ke kampus start jam berapa, karena comfort zone ini… sungguh membuat sulit bergerak. Ditambah, keperluan di kampus tinggal hal kecil; ambil SKL dari TU, scan ijazah dan unggah foto, ketemu teman-teman, dan bhay.
Jam 10 lewat (lupa berapa menit)
Mulai capcus ke kampus yang diawali dengan drama dompet ketinggalan di atas kasur, dan baru ketahuan pas mau beli teh kotak sebelum naik bis. Untung belum naik bis, cobaaaa. Jadi, ketebak lah alurnya; balik lagi demi menyelamatkan dompet.
Jam 10.39
                Lagi di bis dan ditanya Chibi lewat chat tentang hal perintilan, semi nggak penting, tapi bikin dia panik—kayak biasanya. Kali ini dia nanya soal tahun ajaran. Giliran ditanya buat apa, dia bilang buat biodata wisuda. Padahal di biodata nggak ada begituan. Hvft.
Jam 11.20
                Ditanya Nuyuy udah di kampus apa belum—lewat chat juga. Katanya dia butuh bantuan soal prosedural wisuda.
Jam 13. 00
                Sampe kampus, langsung ke lantai 5 fakultas. Di situ ternyata udah ada Akbar, Nizar, sama Danty. Akbar lagi riweuh sendiri, jadi begitu aku sampai, belum sempat bertukar sapa, doi entah ke mana. Nizar sama Danty di depan TU. Danty sempat ngomel waktu aku kagetin dari belakang. Katanya, “ih lo bikin gue makin deg-degan deh!” sambil bolak-balikin kertas di map biru. Ternyata dia cari SKL-nya yang dua hari lalu di-drop di TU bareng kami buat minta tanda tangan Pak Wadek. Sesaat kemudian dia dapat kesimpulan dari bapak TU bahwa SKL-nya resmi ilang, barengan sama kertas Berita Acara Ujian Skripsi dan Bukti Penyerahan Skripsi yang bertanda tangan asli.
Jam 13.02
                Ternyata yang ilang bukan punya Danty doang. Tapi juga punya aku, Nizar, dan Habibi. Punya kami masuk satu file yang kata bapak TU nggak ada di mana-mana.
Jam 12.33
                Terinspirasi saat itu juga mau belajar smack down!
Jam 13.05
                Satu geng mulai ngomel. Nizar buka laptopnya buat bikin SKL ulang, lalu dia cerita bahwa kemarin dia coba mau ambil SKL tapi diundur-undur jamnya sama si bapak, ditambah alasan-alasan yang nggak konsisten. Jadi nggak tahu mana yang benar mana yang diada-ada. Lalu coba hubungi Habibi, katanya dia udah pulang duluan dan besok ke kampus lagi. Mungkin udah bĂȘte karena SKLnya ilang. Jadi katanya, dia udah drop yang baru lagi untuk ditandatangani.
Jam 13.20
               Nuyuy datang tergopoh-gopoh bawa segelas milo dingin di tangannya. Terus aku berbinar-binar, dia kasih ke aku, aku seruput… sampai ga sadar, pengin abis—salah dia sendiri kasih cokelat pada orang yang tepat B-). Terus dia bilang mau urus SKL sambil melewati kami. Kami angkat alis, padahal SKL kan pada ilang. Eh ternyata dia baru mau bikin… di komputer akademik. Padahal laptop Nizar kan dibuka karena lagi pada mau bikin SKL. Dudul!
Jam 14.00
                Ninggalin yang lain buat zuhuran dulu. Ternyata di mushala nggak ada mukena. Mukenanya libur, efek liburan. Zzz!
Jam 14.25
                Danty dan temannya (Lilis) nge-print ulang SKL dan aku nitip. Aku mau ngelengkapin biodata wisuda, minta bantuan Nizar buat nge-scan ijazah dan minjem laptopnya buat unggah foto—yang kemudian, gagal.
Jam 14.40
                Ke akademik bareng Nizar buat urus pengubahan nama di sistem informasi kampus, sementara Nizar urus validasi biaya beserta NISN-nya yang nggak kedeteksi di kemdikbud.
Jam 15.00
                Dikabarin Danty kalau dia lagi emosi di Kopma (Koperasi Mahasiswa) dan katanya bapak di TU nggak ada terus. Si Bapak mengalihkan ke ibu-yang-nggak-usah-disebut-namanya, yang bikin kesal lantaran kerjanya semau beliau; nggak cekatan, ogah-ogahan, yang nggak peduli kalau ngilangin berkas, yang buat urus tanda tangan mudah aja diulur-ulur, yang kalau kerja malah mainan ponsel terus, yang komputernya cuma dibukain buat Facebook-an dan streaming YouTube pakai WiFi akademik, yang tiap kali ngelihat beliau itu semakin kuat inspirasi buat belajar smack down dan tahu letak samsak hidup ada di mana.
Jam 15.20
                Duduk di depan Perpustakaan Fakultas semua dalam keadaan pasrah. Buka laptop Nizar buat edit-edit data. Lalu mulai ngedumelin si ibu itu satu sama lain. Lilis bilang loket ibunya udah ditutup, padahal jam pulang kantor itu 16.00. Ngedengarin Nuyuy curhat tentang dosen pengujinya yang ngedumel pas dimintain tanda-tangan, yang nyuruh dia ngerevisi banyak. Dan dia lagi berjuang buat minta tanda tangan dosen KaJur. Jadi dia ngejar beliau yang kata Bapak SekJur ada di ruang auditorium, which is lumayan jauh dari fakultas.
Jam 16.00
                Lagi nanya-nanya dosen ke Nizar, dan tiba-tiba bapak KaJur melewati kami. Di saat yang sama Nuyuy nge-chat bilang bapaknya nggak dia temui di ruang auditorium. Aku langsung balas, “NUY BAPAKNYA ADA DI SINI! Mau sholat kayaknya beliau. Cepat!”
Jam 16.20
                Sholat di mushala dosen—enakeun euy ruangannya! =)) Pas kelar, ngelihat Nuyuy Benteng Takeshi-an sama Bapak KaJur, thawaf kejar-kejaran di lantai lima. Bapak KaJur memelankan langkah pas kami berpapasan, dan aku bingung buat bilang; Pak-itu-teman-saya-ngejar-Bapak.
Jam 16.50
                Nuyuy kelar tanda tangan sambil sumringah. Aku bilang, “Perlu gue nyanyiin We Are The Champion nggak?” kata dia, “Huh, lo harus nyanyiinnya pake organ tunggal kali, Al.”
Jam 17.00
                Danty buka coloring book, buku yang kata dia anti stress. Dia bilang itu seru. Habis itu aku pamer Medibang, bikin dia kepo. Jadi ajalah sesi dia keponya ditunda sampai besok. =))
Jam 17.10
                Nuyuy bilang kalau dia lapar, aku juga. Jadi kami berpisah dan aku, Nuyuy, Nizar melarikan diri ke ayam penyet langganan untuk pertolongan pertama.
Jam 17.15
                Nuyuy bilang kalau dia ditunggu cowoknya, tapi malu buat ngenalin ke kami karena katanya cowoknya kayak bapak-bapak. Jadilah tebersit insting iseng buat ngerjain dia. Kalau dikenalin beneran, Nizar mau bilang, “Assalamualaikum, Pak.” Lalu aku, “Bapaknya Nuyuy ya?” *smirk*--yang kemudian nggak jadi karena Nuyuy udah keburu ngomel.
Jam 17.30
                Kami berpisah dan aku pulang. Dapat busway arah blok M jadi aku pulang lewat sana.
Jam 20.30
                Setelah sempat maghriban di Blok M, lalu muter-muter sedikit sambil window shopping (ehehehehehehe), jadilah baru tiba di rumah sekitar jam segitu. Hal yang pertama dilakukan adalah bersalin pakaian, beres-beres dikit, buka laptop, liat blog, baca-baca blog orang, lalu nulis buat tema hari ini sedikit…
Jam… entah jam berapa.
                Recovery otot-otot di alam mimpi.

Selesai! Ngomong-ngomong, ini seharusnya tema buat day 15. Tapi aku skip dulu deh tema hari kemarin. Mungkin ditulisnya nanti atau besok, karena ngerasa hari kemarin pengin diabadikan aja. Ngomong-ngomong juga, whole day ini berlaku buat kemarin. Buat sekarang… bentar ya, aku ke kampus dulu, berjuang lagi. Nanti kutulis kalau jadi latihan smack down! *smirk*
-AF

               

DAY 12: FIVE BLESSINGS IN MY LIVE




Seharusnya malam ini harus mengisi data di sebuah situs sebagai perlengkapan wisuda. Tapi, nanti dulu deh. Nulis blog dulu, sebagai pengganti hari kemarin. Hohoho!
Karena temanya simpel, jadi langsung kujawab; lima hal yang membuatku bersyukur:
1.       Keluarga
Ini pertama karena karena karena… aku cukup bersyukur berada di keluarga yang sekaligus menjadi rumah. Meski sekarang kalau ngumpul lengkap susah banget karena jadwal sibuknya suka nggak kompak, jadi, begitu udah bisa kumpul, rasanya waaah banget. Walau pas ngumpul jadinya malah bully-bullyan, ledek sana-sini, dan seabrek hal menjengkelkan untuk dikompromi, tapi bersyukur karena kami tetap bersama. Nggak terpecah. Nggak begitu menekan satu sama lain—kecuali kalau para cowok udah main smack down. Itu beda.

2.       Teman-Teman yang Baik
Salah satu harta karun paling berharga; punya teman yang baik. Meski jumlahnya sedikit, meski suka jarang ketemu fisik, selama mereka mengingatkan pada hal-hal yang baik, menyenangkan sebagai lawan bicara dan pendengar, menghibur di kala sedih, mengerti keadaan yang kita butuhkan, and made you feel sooo lovedit’s more than enough. Dalam hal ini aku juga bersyukur karena salah satu peran teman untukku adalah sebagai bagian dari penolong dalam mengambil keputusan hidup. Dari hal kecil kayak, “Gue bingung sama keadaan ini. Jadi gue harus gimana ya?” sampai ke hal besar, “Gue lebih cocoknya pake lipstik yang mana?”—eh, itu kebalik nggak sik? :o

3.       Para Guru
Untuk menjadi orang tua kedua ketika orang tua sendiri sedang jauh, atas segala nasihat-nasihat yang membantu pola melanjutkan tujuan hidup, atas segala monitoring yang membantu menggambarkan setelah sebuah keputusan dibuat; dari guru-guru masa sekolah, dosen-dosen di bangku perkuliahan, guru-guru menulis, guru di berbagai komunitas, teman yang kupaksa jadi guru pribadi… *bhahaha, ini mah modus.

4.       Diri Sendiri
Atas apa yang sudah terjadi di hari ini, juga di masa-masa lalu yang tak terjangkau lagi. Meski lebih seringnya main-main, bercanda, ketawa-ketiwi, nggak begitu maksimal memanfaatkan waktu dengan baik sampai kejedot sendiri—and you’re learning from it. Keep learning, keep going.

5.       Sesuatu yang Tak Tergambar Fisik
Maksudnya di sini adalah; bangun pagi-pagi, excited karena lot of things to do, dreaming of good result, dreaming of good future, berdoa akan ada banyak hal baik dan seru di hari itu, melakukan banyak hal sampai capek sendiri, kemudian selesainya merebahkan diri di atas kasur dalam keadaan bahagia. Ah, ideal banget—meski aslinya suka keselip drama ini-itu yang unpredictable. Bhahaha…

Selesai! Sudah malam, ikan bobo… mudah-mudahan besok nggak mager capek-capek amat supaya bisa lanjut posting.

-AF