Wednesday, March 12, 2014

[PARE 3]: AL’AROBIYAH FII AIDINA

 
“Al’arobiyah lughotul Qur’aniy, kamaa hiya lughotul fii jinaanii, nurjaa min kuli ustadzin wa tholibin, kalaamun billughotil ‘arobiyati…
“Kalaamu biha li-ajlil mahabbah, lirrosulillahi nabihirrohmah, man takallam binniyyatil ‘ibaadah, tahashola minallahi sa’adah…”
Untuk menyukai belajar bahasa asing –apa pun itu, hal yang pertama kali diperlukan adalah menumbuhkan cinta. Dengan cinta yang akan tumbuh itu, muncullah motivasi-motivasi supaya kita bisa menguasai bahasa asing itu dengan mudah. Setelah cinta itu tumbuh, jangan lupa sering melakukan praktik dalam mengucapkan bahasa asing itu. Kita perlu usaha memaksa bibir kita untuk berucap, supaya nanti bisa terbiasa.
Nah, caranya bisa jatuh cinta dengan bahasa asing sebelum belajar bagaimana? Terutama bahasa Arab, yang ternyata cukup rumit untuk dipelajari?
Jujur, setelah melewati sekian tahun untuk belajar bahasa Arab, menumbuhkan cinta di sini ternyata lebih rumit daripada di bahasa asing lainnya. Aku sempat kehilangan motivasi dan lebih memilih untuk ikut alur yang menakdirkanku untuk belajar bahasa Arab lebih lanjut, meskipun dalam proses sulit menghadirkan feel. Beriringan dalam belajar bahasa Arab ini, aku juga belajar bahasa Inggris dan Korea sekaligus. Itu karena aku suka menyelami bahasa asing, dibanding harus bergelut di angka-angka matematika. Heuheu.
Lalu, bagaimana cara mendapatkan feel­-nya?
Aku suka bahasa Inggris karena itu mudah dicerna dan ditemui di film-film, games, novel, dan lain-lain. Lebih mudah praktiknya ketika bahasa dikemas dengan bungkus dan produk yang apik. Sedangkan dengan bahasa Korea, aku bisa belajar –selain dari buku, melalui drama dan lagu-lagunya. Dan menurutku, kedua bahasa ini jauh lebih mudah. Tidak ada perbedaan kata benda ‘perempuan’ dan ‘laki-laki’ seperti di bahasa Arab. Bahasa formal dan informalnya juga tidak berbeda jauh. Perbendaharaan katanya tidak perlu diberi harokat. Dan yang lain sebagainya…
Bukan dari kalimatku tadi bahasa Arab itu bahasa yang rumit jadi lebih baik jangan dipelajari, ya. Bukan, bukan gitu! Justru, dengan banyaknya tata cara berbahasa Arab dengan baik, aku seperti terpancing untuk menantang diri sendiri. Di antaranya; membuat list untuk menyediakan waktu, minimal sebulan, berkumpul di tengah-tengah orang yang mayoritas berbahasa Arab. Di situ, aku menyesuaikan diri untuk tidak berbahasa Korea atau Inggris –bukan berarti aku benar-benar left.  Menyelami dan mencari pupuk agar bibit cinta dalam berbahasa Arab bisa tumbuh subur, dan berkembang. Sedangkan faktor pendukung agar cinta bisa tumbuh adalah karakter guru. Setuju? :p
Guru besar dan utamaku di kursus Ocean, ustad Thoyyib, pernah mengutarakan hipotesisnya yang kira-kira begini; “Kita bisa lihat, banyak orang yang menyukai belajar bahasa asing terutama bahasa Inggris. Bahkan dalam skala perbandingan, orang yang minat belajar bahasa Arab dibanding yang minat belajar bahasa Inggris itu terlihat sangat jauh. Nah, kalau kita bisa berkaca pada orang-orang yang belajar bahasa Inggris, kenapa mereka bisa mudah menguasai, perhatikan pada prosesnya. Dalam belajar, guru mereka banyak menyertai kegiatan-kegiatan seperti debat, permainan, yang melatih otak untuk menyerap lebih mudah. Jadi nggak hanya seputar hafalan saja. Itu yang juga saya usahakan untuk diterapkan pada kalian agar cinta pada bahasa Arab. Seorang guru memang harus bersikap kreatif untuk membuat kelas ‘hidup’. Dan jika seorang guru sudah ikhlas dan nyaman dengan profesinya, maka murid akan mereka anggap sebagai teman sendiri. Mereka akan ‘lepas’ dalam mengajar. Lalu, bagaimana kalau mereka tidak hormat? Itu kembali pada pandangan kita masing-masing.”
Dan perlu kuakui, dalam proses belajar-mengajar, ustad Thoyyib itu bersikap sesuai perkataannya; ‘lepas’. Tiap pertemuan, nyaris tak pernah lepas dari tertawa terbahak-bahak. Sampai waktu satu setengah jam bisa terlewati begitu cepat dan keluar kelas membawa ilmu yang nyangkut di otak. Entah berapa kali, aku pernah menggumamkan pada diri sendiri; kapan dosenku kayak begini? Ketika masuk kelas mahasiswa tidak berat melangkah dan kehadirannya ditunggu-tunggu. Kalau begini kan, kuliah jadi nyaman juga.
Ustad Thoyyib ^^
Lalu, ada ustad Wahid. Dulu beliau alumni Ocean juga yang kini mengajar anak-anak Aidina. Orangnya nggak kalah supel dan kocak. Meskipun umur beliau jauh lebih muda dari ustad Thoyyib, penguasaan dalam bahasa Arab beliau itu kece badai!
Ini pose Ustad Wahid yang praktekin punya mata sebesar pentol. :p
Sementara peraturan dalam belajar, setiap kelas Aidina, kedua ustad itu akan selalu meninggalkan papan tulis dalam keadaan penuh kosa kata baru! Pernah, saking banyaknya dan waktu kami tidak cukup untuk menulis, kami potret pakai kamera ponsel –meskipun ujung-ujungnya tidak kusalin ke buku catatan. Hoho.
Pertama kali dan di hari pertama les, aku sama sekali nggak bawa buku catatan dan pulpen. Jadi, begitu ustad menulis kosa kata di papan, aku dengan wajah-seakan-tak-punya-dosa justru mengalihkan pandangan ke luar jendela (aku paling suka duduk di dekat jendela saat di sana), yang tentunya langsung ketahuan dan ditegur. Itu sempat berlangsung sampai beberapa pertemuan, yang kemudian aku diberi tahu dengan teman sekamar kalau kosa kata di papan tulis itu harus dihafal. Semuanya! Kalau tidak, nanti akan diberi hukuman saat ditanya satu-satu. Aku langsung kelabakan, tentu saja. Di sela waktu istirahat, aku langsung beli buku dan pulpen di tempat fotokopian dan menyalin kosa kata dari teman sekelas. Huuuuft~
Oh ya, seperti di tempat lainnya, aku juga cukup langganan buat dihukum kalau tidak bisa menjawab. Nggak aneh lagi, kan? ;p Hukuman di sana itu berupa sang ustad menggetok telapak tangan kita dengan spidol papan tulis yang berimbas nyeri dalam beberapa detik. Hahaha. Eh, meskipun begitu juga, aku nggak selalu dihukum lho. Beberapa kali bisa menjawab, kalau dalam keadaan taubat. *yassalaaaam*
Ini keadaan papan tulis yang nyaris penuh sama kosa kata baru.
Seperti dalam belajar yang lainnya, hukuman bisa memberi efek jera agar kita semangat belajar. Dan buatku sendiri, beberapa kali minder nggak bisa jawab –meskipun yang keliatan muka puppy eyes- padahal sebenarnya ketar-ketir. Heuheu. Tapi, perlu diakui. Belajar bahasa asing seperti ini, dengan banyak permainan, bercanda, kegiatan, yang tentu saja masih dalam jalurnya, memberikan sensasi menyenangkan sehingga lupa kalau bahasa Arab itu rumit. Trust me! Dan harus jujur kuutarakan sekali lagi, ustad Thoyyib dan jajarannya bisa dijadikan referensi untuk belajar mengajar supaya ke depan bahasa Arab semakin banyak diminati.
“Ijtahiduu wahfadhuu wa takallamuu billughotil ‘arobiyyati!”

-AF:)

3 comments:

Arina Istiqomah said...

Jadi kangen masa2 di Pare yang begitu singkat tpi sangat berkesan

W Sanavero said...

Keren !

ibnu fakhri said...

itu kenapa pas di lagunya.,(al arobiyah) liriknya mnurut ana klu dnyanyiin kaya ganjil.."nurja" min kulli.. sama "nabihirrohmah"..