Tuesday, April 30, 2013


My name is Eva, one of the fairies who came to earth from a kingdom, which placed out of earth named Iris. A kingdom which had a big war on recent years, and made bad effects to their fairies. Our kingdom destroyed and the fairies couldn’t make their relationship harmoniously. We lived individually and we also forgot about love. Until this case made our king should have a consideration to get solution, to make our kingdom better than before. So it was the reason, why I should came here and change my self into a human like earth’s citizen.
I have to disagree when king commanded us to descend to earth. Accorded on his mind, earth is one of the planets in solar system, which had the lovable citizens who lived peacefully. We should learn to them. That’s why king change us became a human who spread on earth. He also made us some rules and we must remember it correctly. One of them; the fairies couldn’t love with another fairy. We should find our love with the real earth’s human. I thought it’s ridiculous. How can I recognized  that human was also fairy or not? meanwhile, I also hard to recognize myself since I change into a human.
But, that things removed by my mind since I met Rafael, a earth’s boy with his handsome face and left me a nice impression. I get used with him, until I didn’t realize that I remembered his habbits. One of them, he likes to sat down on one of the swings, in the garden of a corner city. The garden that will be my last place in this earth, and change me into a statue with another fairies -who I didn’t know them- like what king’s said before. A lovable garden for me, because this garden left me some sweet memories since I fall in love with him.
“Eva, I wanna tell something to you…” said Rafael, near from my last day in earth. I knew from king’s code to me, which said that I just have a several days again to stay in this earth.
“What is that?”
Rafael groped his pocket, “Alya gave me this present when I met her. She said, it’s a sign of our friendship.” Rafael gave a little box to me.
I grumbled. Ah, can he never mentions Alya in our conversation? Can he looks at me just once? I wanna collide about king’s rules to never show our real identity to other. I wanna show it to Rafael, so he could approve my love. But I can’t. I still kept that secret hardly, while in another case I showed my feel to him.
“Raf, I have to confess something to you. It’s my first time, so I can accept whatever your answer…”
And then, I tell to him what on my feel exactly. Rafael listened to me well. Like what I said before, whatever his respond to me, I’ll accept it as my consequence.
I am Rafael and I’ve known that Eva would say that words to me. I regret, ‘cause I have to gave a negative answer to the Iris’ prettiest fairy. Where I known that? The simpliest answer is; we’re the same. We’re came from our similliar kingdom and forbidden to love each other. I should felt enough when I placed in the same place and being close with her like this. A new case for us, because we never met before since Iris had a big war.
“Forgive me, Eva. I’ve loved Alya. Yes, she is the person that I want.” I answered. Then I bowed my head, so Eva can’t found my lie. Eva just has to know that I loved Alya, a girl who loves read some books and has a close relationship with me nowadays. A big lie for me, because I never accept Alya more than my close friend. And I know, I can say that only behind her to save her conscience.
I saw Eva bowed her head looks like she wanna hid her tears. Then she nodded, “I understand, thanks for the answer.”
Once more, I just told sorry to her. By king’s command that we have to obey, I should did it, so king wouldn’t punish me with his severe punishment. I wished, when we return to our kingdom, we wouldn’t meet again like this and share our love to each other. I expected it so.
And my name is Alya, a girl who Rafael said that he loved me in front of Eva. Too painfull for me when I heard that, because I knew that’s a lie. I loved Rafael since too much moments that we’ve passed. Altough I buried it, since I knew that Rafael often mentioned Eva as our conersation’s topic when we’re together, I also knew that they had a same identity, the fairy from Iris!
Many reference that I’d read about it before. A kingdom which named from Greek, was unstrangered to me. Yeah, just a little person known about the Iris’ problem. All of fairies can’t recognized their selves what the difference between them and the real human. And just a few person can saw the difference of them clearly. So, I should be gratefully ‘cause I’ve found it.
One day, when I was beside Rafael at the library. I’ve suprised when I saw him appeared-dissapeared on one time. I scared, was it the time that he should go? My tears were fall when I saw him became a shadow. I remembered about this information, it was one of sign that they would back to their kingdom. They form changed into a statue and stood up in the garden which never visited by the rainbow, and Rafael loved it most.
“I love you, Rafael..” said Eva several days ago which can’t be removable. A simple word that hurt me, because I also should did that to him. And hoped him beside me, not by her.
But, here I am. In this garden, two couple statues stood up accompanied the swings. My eyes looked at them. Under this heavy rain, I took shelter with my umbrella and hidden my tears commemorated Rafael. I missed him…
Then the rain fall drizzly carried a nice scenery made me frighten. The two white statue dominated by the colours of the rainbow. Very beautifull! I thought that was unbelievable, but it’s true! I smiled, felt proud ‘cause I could see that scenery. A written fact about it that I’ve read it before, that the rainbow came to them because they found their love with fellow fairies.
It’s a little sign that showed to me now. Eva and Rafael got happiness, they found their love. And maybe one by one of fairies also like that. Implied me that I should have my prosperity by found my love, started with forget them and make a new memories.
*dimuat di majalah Story edisi 44, Mei 2013

Monday, April 29, 2013

A Girl, A Lady, A Woman, with A Love...

"Cinta murni itu bullshit. Terutama untuk zaman sekarang ini. Mungkin pemilik cinta sejati pada zaman ini terakhir jatuh pada pasangan Habibi-Ainun. Selebihnya buang deh, kepercayaanmu tentang cinta itu pada orang yang kamu cintai."

Kalau kamu yang membaca paragraf pembuka ini mengira bahwa kalimat itu berasal dari bibir remaja yang habis putus cinta, kamu salah total! Karena kenyataannya, kalimat itu berasal dari bibir seorang wanita yang berusia lebih dari 40 tahun, yang ia lontarkan pada sekumpulan remaja yang masih di bawah 20-an. Remaja perempuan yang masih ingin mencicipi banyaknya rasa dari masa-masa kasmarannya, dan terlalu dini untuk dipaksa menelan rasa yang pahit itu. Para kelompok remaja itu mendadak mendiskusikan kalimat menyeramkan itu di balik si perempuan tadi. Sisi psikologisnya mulai ketakutan. Takut sakit hati, takut memiliki kegelapan dalam masa depan, dan yang lebih parahnya lagi, takut untuk menjadi dewasa. Seolah-olah, mereka menginginkan Allah mengabulkan doa mereka agar waktu berjalan jauh lebih lambat dari semestinya. Agar mereka tak cepat dewasa, agar masalah tak jauh bertambah rumit sesuai usianya....

Sementara itu, mungkin harapan yang sama diucapkan dari bibir perempuan pencerita tadi. Ia ingin kembali menikmati masa-masa remajanya dengan penuh warna merah muda dari berbagai sisi. Sehingga, ia tak ingin tahu bahwa warna merah mudanya telah bertrasisi menjadi kegelapan saat di usianya ini. Kalau saat itu terkabuli, mungkin ia ingin memperbaiki segalanya, sehingga warna merah muda itu lebih cerah dan cantik dipandang seperti yang lainnya...

Menurutku, perempuan memiliki 3 Fase dalam jatuh cinta dan hal memilih cinta. Ketika ia sebagai girl, lady, dan woman. Seorang girl adalah masa-masa menikmati kasmarannya, menerima cinta, mempercayai cinta pada pandangan pertama, mengagumi seseorang hanya dengan alasan sederhana, mengedepankan perasaan dan menolak sugesti siapapun yang menentang dengan perasaannya. Ia hanya tau ia akan bahagia, sebahagianya dongeng cinderella yang selalu diwarnai dengan rasa cinta ketika bertemu dengan pangerannya...
Sementara untuk seorang lady, masa-masa menyeimbangi antara logika dan perasaannya. Mulai untuk menyeleksi untuk memilih satu untuk menjadi sahabat sekaligus imam di masa depannya. Tentu akal sehat serta sisi kedewasaannya sangat berperan di sini. Berharap dongeng cinderella benar-benar nyata sehingga berpihak padanya.
Lalu tentang woman, saat itu adalah saat penuaian. Beberapa orang yang kutemui dan sudah memasuki kriteria woman, memiliki banyak cerita. Masing-masing dari mereka ada yang mengutuk dirinya atas nama cinta, sehingga terkesan hatinya sudah tertutup untuk merasakan cinta dan dicintai. Woman jenis inilah yang menakutkan untuk seumuranku. Terkadang mereka menyiratkan identifikasi dirinya lewat novel-novel rekomendasi dari mereka yang terlihat 'sesuai' dengan pola pikir mereka.
Terkesan menakutkan, bukan?

Thursday, April 25, 2013


Tentang sepasang anak sekolah yang saling mencintai, Joon Sang dan Yujin...
Dengan kepribadian yang berbeda, Joon Sang yang pendiam dan Yujin yang cheerfull bertemu di sebuah bis yang membawa mereka ke sekolah mereka. Joon Sang selalu menolong Yujin ketika ia terlambat sekolah sehingga memaksanya untuk masuk dengan memanjat pagar sekolah. Joon Sang yang berstatus sebagai anak baru di sekolah itu, sebenarnya sedang dalam misinya untuk mencari sosok ayah kandungnya yang tak pernah ditemuinya semenjak ia lahir. Sayangnya misi itu tidak diketahui siapapun, termasuk Yujin. Yujin hanya tahu bahwa Joon Sang adalah seseorang yang mencintainya, setelah beberapa waktu Joon Sang mengorbankan waktunya bersama Yujin.
Sayangnya, setelah beberapa kali mereka jalan-jalan bersama. Kabar menggemparkan datang ke pihak sekolah, bahwa Joon Sang meninggal karena kecelakaan ketika ingin menemui Yujin.
Sepuluh tahun berlalu di hari pertunangan Yujin dengan SangHyuk...
Yujin menemukan seorang laki-laki di jalan menyerupai Joon Sang. Dengan ciri-ciri yang berbeda. Joon Sang terlihat lebih dewasa dengan kacamata minusnya dan model rambutnya. Penemuan itu jelas saja membuat Yujin limbung. Perasaannya campur aduk sehingga keadaan membuatnya datang terlambat jauh dari jam pertunangannya dimulai. Pertunangan hari itu batal, Yujin terpaksa harus mendapat kekecewaan dari banyak pihak.
Lalu Yujin kembali bertemu sosok Joon Sang ketika mereka reuni dengan teman-teman sekolah mereka. Chelin, salah satu temannya, memperkenalkan pada mereka sebagai kekasihnya. Namanya Min Hyung, dan siapapun yang melihatnya pasti mengenalnya sebagai Joon Sang yang sudah berganti nama.
Seakan tidak cukup, Yujin harus bertemu lagi dengan Min Hyung yang kali ini sebagai partner kerjanya. Yujin yang masih dikagetkan dengan sosoknya tanpa sadar menangis ketika berhadapan dekat dengan Min Hyung. Min Hyung kebingungan. Ia merasa telah membuat klien kerjanya tidak nyaman meskipun ia sendiri tidak tahu letak kesalahannya. Perlahan-lahan ia mencari tahu dari beberapa sumber tentang penyebabnya, semakin kesini, ia semakin tahu bahwa Yujin teringat pada cinta pertamanya yang sosoknya sangat menyerupai dirinya.
Min Hyung sadar dan meminta maaf pada Yujin, kedekatan persahabatannya tanpa sadar membuatnya jatuh cinta pada Yujin dan membuatnya harus memutuskan hubungan dengan Chelin. Min Hyung berharap, Yujin bisa mengenalnya sebagai Min Hyung, bukan Joon Sang.
Namun ada yang dilupakan dari Min Hyung ketika ia melewati suatu keadaan, ia melupakan masa kecilnya! sesuatu yang sama sekali tidak diingatnya!
Min Hyung akhirnya berusaha mencari tahu tentang mendiang Joon Sang lewat sekolahnya dulu. Dari sana didapatkannya identitas Joon Sang. Ia menghampiri rumah tersebut dan masuk ke dalamnya. Satu hal yang membuatnya semakin terkejut: rumah itu seakan-akan menyebutkan bahwa ia adalah Joon Sang yang hilang.

Tuesday, April 23, 2013


Penulis: Buya Hamka

"Sebagai kukatakan dahulu, lebih bebas saya menulis surat daripada berkata-kata dengan engkau. Saya lebih pandai meratap dalam surat, menyesal dalam surat, mengupat dalam surat. Karena, bilamana saya bertemu dengan engkau, maka matamu yang sebagai Bintang Timur itu senantiasa menghilangkan susun kataku."
Sebuah surat dari Zainuddin untuk sahabat perempuan yang dicintainya, Hayati. 
Berawal dari pertemuan singkat di daerah Padang, dekat rumah Hayati. Hayati yang berbudi pekerti yang baik, memiliki tutur kata yang indah, juga parasnya yang cantik, memikat hati Zainuddin. Mereka berkenalan, lalu saling menjalin persahabatan yang dimulai dari pertemuan itu. Mereka saling bertemu dengan melibatkan adik laki-laki Hayati sebagai orang ketiganya.
Namun Zainuddin yang malang harus memupus perasaan cintanya pada Hayati mengingat statusnya sebagai pemuda yang tidak jelas asal usulnya. Ia harus menelan mentah-mentah akan kehidupannya yang tidak beradat, sehingga ia tidak memiliki jaminan harta yang banyak untuk menyandingkan Hayati di sisinya. Karena Hayati terlahir dari keluarga yang terpandang dan tinggal di suatu tempat yang masih kental peradatannya.
Lalu Zainuddin terpaksa dipisahkan dari Hayati, meskipun keduanya saling mencintai. Cinta yang suci atas nama Ilahi. Mereka tetap berkomunikasi lewat surat-surat yang indah bahasanya, saling mengungkapkan perasaan mereka di dalam sana. Hayati berjanji pada Zainuddin bahwa ia akan menunggu kepulangan Zainuddin sampai kapanpun, dan sampai saat itu ia tak akan mengubah perasaannya, memberikan cintanya pada siapapun selain Zainuddin.
Keadaan berubah ketika Hayati mencoba untuk bertemu dengan Zainuddin di Mengkasar. Melalui bantuan sahabatnya, Khadijah, semuanya terlaksana. Hayati bertemu dengan Zainuddin di sebuah arena pacuan kuda. Namun satu hal yang Hayati tidak ketahui, bahwa Khadijah berusaha memisahkan Hayati dari Zainuddin dan mempersatukan Hayati dengan kakaknya, Aziz.
Misi Khadijah berhasil, Aziz melamar Hayati bersamaan dengan datangnya surat lamaran dari Zainuddin untuk Hayati. Sekeluarga besar Hayati mempertimbangkan akan calon suami Hayati, dan berdasarkan adat istiadat setempat, Aziz yang terpilihlah sebagai suami untuk Hayati.
Zainuddin menderita. Ia terjatuh sakit sehingga diharuskannya berbaring selama dua bulan lamanya. Fisiknya melemah. Ditemani sahabatnya, Muluk, ia berusaha menceritakan segalanya. Muluk memberikan saran, bahwa Zainuddin harus melupakan Hayati dan membuat kehidupan baru.
Lalu Zainuddin pindah bersama Muluk ke Surabaya dan membuat kehidupan barunya sebagai penyair terkenal dengan menampilkan nama penanya, Shabir. Identitas lamanya sengaja ia tinggalkan. Pembaca syairnya hanya mengenalnya sebagai Shabir, bukan Zainuddin, termasuk Hayati.
Kehidupan Hayati dan Aziz makin lama makin surut. Hartanya kian menipis seiring dengan perbuatan Aziz yang hanya menghabiskannya untuk berjudi dan bermain perempuan. Mereka bertemu dengan Zainuddin di sebuah kesempatan dan tentunya membuat mereka tercengang begitu melihat kehidupan Zainuddin yang kian sukses. Rasa malu akan masa lalu berusaha mereka lupakan mengingat mereka sangat membutuhkan pertolongan Zainuddin untuk menyambung hidupnya.
Lalu Aziz kembali ke Padang meninggalkan Hayati di Surabaya bersama Zainuddin. Ia memberikan surat cerai sesampainya di sana, beserta surat permohonan maaf untuk Zainuddin agar bisa menerima Hayati kembali seperti dulu kala. Di dalam surat itu telampir sebuah kliping artikel yang memberitakan bahwa Aziz telah meninggal akibat bunuh diri.
Namun sayangnya Zainuddin telah menolak Hayati, sekalipun Hayati memintanya kembali untuk mencintainya. Ia justru meminta Hayati kembali ke tanah Minang dan meninggalkan Surabaya.
"Pantang pisang berbuah dua kali, pantang pemuda makan sisa!"
Hayati akhirnya menuruti keinginan Zainuddin untuk kembali ke Padang setelah menerima tiket sebuah kapal Van Der Wijck. Ia meninggalkan Surabaya dan menitip surat terakhirnya untuk Zainuddin lewat Muluk. Isi surat itu menceritakan akan perasaannya, dan juga permohonan maafnya. Namun sebelum Zainuddin sempat menyusul Hayati untuk menjemputnya kembali ke Surabaya, sebuah kabar duka datang. Kapal Van Der Wijck tenggelam, dan Hayati meninggal setelah sempat diselamatkan pihak medis.
Hati Zainuddin kembali hancur. Kali ini beserta hidupnya. Semangatnya untuk menghadapi hidup telah mati meninggalkannya, sehingga tak ada alasan untuknya bertahan hidup. Setahun kemudian Zainuddin meninggal, setelah kabar tentangnya sempat hilang tiba-tiba.
"Jangan sampai terlintas dalam hatimu bahwa ada pula bahagia selain bahagia cinta. Kalau kau percaya ada pula satu kebahagiaan selain kebahagiaan cinta, celaka kau Dik! Kau menjatuhkan vonis kematian ke atas dirimu sendiri!"
Buya Hamka

Thursday, April 18, 2013

Novel: Aku Lupa Bahwa Aku Perempuan


Penulis: Ihsan Abdul Quddus

Sebuah novel yang mengisahkan tentang ambisi seorang wanita terhadap kariernya. Hingga melupakan jati dirinya bahwa ia adalah seorang perempuan, yang sejatinya mengutamakan kepentingan dalam rumah lebih baik daripada terobsesi dengan karier politiknya. Ia berpendirian yang sangat teguh terhadap konsekuensinya sejak ia masih muda, saat menjadi mahasiswi s1. Wanita yang sangat koleris, sehingga ia sudah merencanakan tujuan hidupnya dengan matang. Namun, sayangnya ia selalu menyampingkan kebutuhan keperempuanannya, sehingga itu terkesan tidak penting baginya. Termasuk jatuh cinta pada lelaki, dan menikahinya. Baginya, politik adalah nomer satu. Ia tidak menginginkan pernikahan jika hanya mencoreng kecitraannya sebagai pemimpin negara.
Satu persatu konflik datang, lelaki yang bernama Abdul Hamid datang mengutarakan cintanya dan menawarkan diri untuk menikahinya. Pernikahan itu terlaksana ketika ia menyelesaikan skripsi s1-nya dengan pesta yang mewah. Ia dikaruniai seorang putri bernama Faizah dari suaminya. Sayangnya, pernikahannya hanya bertahan selama tiga tahun. Hubungannya dengan sang suami terpaksa berakhir, karena tidak ada kekolerasian antara pola pikirnya dengan pola pikir suaminya.
Pernikahan kedua terjadi setelah sepuluh tahun ia menyandang status sebagai janda. Kali ini ia bersuamikan seorang dokter terkenal, bernama dokter Gamal. Dokter yang memiliki sifat sama dengannya; lebih mengutamakan pekerjaan daripada hal-hal pribadi rumah tangganya. Mereka juga memiliki prinsip yang sama tentang cinta, yang hanya bisa mereka lakukan ketika mendapati waktu luang. Meskipun mereka sendiri sama-sama tahu, bahwa kesempatan waktu luang yang mereka punya sangatlah sempit, mengingat waktu-waktu kesibukan pekerjaannya mendominasi hari-hari mereka.
Pernikahan kedua hanya bertahan lima tahun. Dengan Faizah yang selalu ia titipkan kepada ibunya (nenek dari Faizah). Ia juga sering bertabrakan ego dengan dokter Gamal, dan menyebabkan pernikahannya kembali gagal untuk yang kedua kalinya. Perasaan terpukul pada perceraian kedua tidak membuatnya jengah, untuk menyadarkan fitrahnya kembali sebagai seorang perempuan. Meskipun saat itu usianya lima puluh tahun, namun kenyataannya ia terbiasa mengingat dirinya sebagai wanita ambisius. Bukan sebagai perempuan sejati...


Sebuah novel terjemahan dari bahasa Arab karya Ihsan Abdul Quddus yang membuat emosiku mendidih ketika membacanya. Sambil berdoa dalam hati tiap kali melewati paragrafnya, "semoga nasibku tak sama seperti Suad (peran perempuan utama dalam tokoh novel tersebut.)". >,<
Menurutku, konflik dalam novel ini kurang terbangun, sehingga akhir dalam ceritanya terkesan datar. Novel ini jadi seperti buku diary Suad dalam hidupnya, karena penokohan dalam novel tersebut hanya terlihat kuat pada karakter Suad. Sementara tokoh Abdul Hamid, dokter Gamal, dkk, memiliki porsi karakter yang jauh lebih lemah daripada karakter Suad.
Kehebatan penulis novel ini adalah, ia berani menyajikan karakter utama yang terkesan 'hitam' sehingga membuat pembacanya terbawa emosi.

Tuesday, April 2, 2013

Political Colledge

Postingan ini kutulis sambil nyuri-nyuri waktu juga memanfaatkan wifi di perpus kampus, padahal lagi bikin makalah analisis wacana mata kuliah linguistik. Yang sebenarnya aku nggak ngerti, pelajaran ini ngebahas apaan? Jadi, berhubung otak belom konek sementara internetnya konek, aku curhat dulu di sini ya....
Belum lama ini, aku dibingungkan lagi sama politik. Kali ini ruang lingkupnya cuma di kampus, dan di kampusnya itu cuma di jurusanku. Tapi lumayan bikin pusing, bikin mengernyitkan dahi, bikin aneh sendiri, padahal aku nggak terlibat untuk berpihak ke partai manapun. Suasana panas, dari sebelum PEMIRA sampai jauh setelah hari H selesai. Awalnya saling bersaing, akhirnya masih kelihatan sengatan api di pihak yang kalah. Issue mulai datang sana dan sini. Rebutan jabatan dari masing-masing individu mulai kedengaran.
Oh ya, postingan ini kubuat hanya sebatas pengetahuanku yang lemah, lho. Jadi yang punya sudut pandang sendiri, nggak papa untuk komen di sini. Buat membantu aku yang masih naif dalam berpolitik ini.
Ceritanya, hari itu para tim sukses sedang panas-panasnya berusaha untuk mengincar anggota nonpartai sepertiku untuk memilih calon sesuai partainya. Semuanya sepakat, sok-sokan bilang, "Gue pilih dia karena dia bertanggung jawab ya, terlepas dari bendera partainya." Well it doesn't true, right? Basi banget hasutannya! Ketika ada anggota dari satu partai nyuri start buat ngelakuin itu, partai lawannya panas. Salah satu anggotanya berlaku hal yang sama padaku. And me? Sebagai anggota nonpartai, aku ngerasa simpel aja buat milih calon. Nilai aja dari tim suksesnya, dengan bagaimana mereka mempengaruhi anggota nonpartai. Kalau dari awal udah main sogokan, bisa punya image sendiri kan bagaimana nantinya masa depan jurusan? Jadi saat itu, tim sukses kedua udah lumayan punya image yang bagus di mataku daripada yang pertama. Aku milih dia, dan dia menang. And, what the next? Issue sana-sini muncul. Dia dianggap udah nyogok anak semester 2 untuk memilihnya. Segitunya.....
Masih nggak ngerti sampai saat ini, kenapa para aktivis kampus itu harus heboh banget rebutan kursi dalam jabatannya? Mereka dapat honorkah? Kalau iya, pasti akan menimbulkan kecurigaan dari para masyarakat jurusan terhadap hasil dari kampus tersebut. Sedangkan kalau nggak, cukupkah gengsi bisa mengalahi semuanya sampai-sampai rela bertanggung jawab untuk mengepalai sebuah jurusan? Aku rasa nggak... tapi bukan berarti aku curiga tentang presepsi yang pertama meskipun kemungkinan faktanya juga ada.
Terlebih lagi, ada tim sukses yang kerjaannya curiga terus ketika ada orang yang ia rasa di bawah pengaruhnya ngobrol privasi sama orang lain. Padahal itu sahabatnya sendiri. Well, aku nggak ngerti sama mindsetnya, kenapa sampai berpikir segitunya...
Aku emang bukan organisator yang baik, terlepas dari beberapa organisasi yang tidak bisa dibilang maksimal ketika aku terlibat di dalamnya. Organisasi yang terakhir kujabat itu organisasi kampus yang sempat membuatku down sehingga lebih memilih untuk lepas. Merasakan banyak hal negatif sehingga aku sendiri kesulitan untuk bertahan di dalamnya. Sulit untuk bersabar ketika menemukan pihak yang lebih sering menentang daripada menghargai. Well, aku nggak menyalahkan mereka, maka dari itu aku pilih mundur dari semuanya daripada terus-terusan berada di pihak yang mereka anggap salah. I am too childish, right? But some of my friend also feel that. Terlepas dari itu semua, pertanyaanku mulai muncul. Kalau aku aja yang punya posisi di salah satu divisi nggak betah, kenapa para calon ketua sebegitu getolnya buat menempati posisi jadi ketua? Dan ketika salah satu dari mereka yang kalah dari pemilihan, haruskah ada pertengkaran?
Last, itu doang yang bisa kucurhatin di sini. Maaf kalau pihak yang terlibat di sini mesti tersinggung. Hehehe..
PEMIRA udah selesai, sekarang saatnya kita mempercayai pemimpin kita, bukan?
"Mari kita sambut para pemimpin, dan berikan mereka harapan. Life starts here!" -Nutrilon :P