Tuesday, April 23, 2013

NOVEL: TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK


Penulis: Buya Hamka

"Sebagai kukatakan dahulu, lebih bebas saya menulis surat daripada berkata-kata dengan engkau. Saya lebih pandai meratap dalam surat, menyesal dalam surat, mengupat dalam surat. Karena, bilamana saya bertemu dengan engkau, maka matamu yang sebagai Bintang Timur itu senantiasa menghilangkan susun kataku."
Sebuah surat dari Zainuddin untuk sahabat perempuan yang dicintainya, Hayati. 
Berawal dari pertemuan singkat di daerah Padang, dekat rumah Hayati. Hayati yang berbudi pekerti yang baik, memiliki tutur kata yang indah, juga parasnya yang cantik, memikat hati Zainuddin. Mereka berkenalan, lalu saling menjalin persahabatan yang dimulai dari pertemuan itu. Mereka saling bertemu dengan melibatkan adik laki-laki Hayati sebagai orang ketiganya.
Namun Zainuddin yang malang harus memupus perasaan cintanya pada Hayati mengingat statusnya sebagai pemuda yang tidak jelas asal usulnya. Ia harus menelan mentah-mentah akan kehidupannya yang tidak beradat, sehingga ia tidak memiliki jaminan harta yang banyak untuk menyandingkan Hayati di sisinya. Karena Hayati terlahir dari keluarga yang terpandang dan tinggal di suatu tempat yang masih kental peradatannya.
Lalu Zainuddin terpaksa dipisahkan dari Hayati, meskipun keduanya saling mencintai. Cinta yang suci atas nama Ilahi. Mereka tetap berkomunikasi lewat surat-surat yang indah bahasanya, saling mengungkapkan perasaan mereka di dalam sana. Hayati berjanji pada Zainuddin bahwa ia akan menunggu kepulangan Zainuddin sampai kapanpun, dan sampai saat itu ia tak akan mengubah perasaannya, memberikan cintanya pada siapapun selain Zainuddin.
Keadaan berubah ketika Hayati mencoba untuk bertemu dengan Zainuddin di Mengkasar. Melalui bantuan sahabatnya, Khadijah, semuanya terlaksana. Hayati bertemu dengan Zainuddin di sebuah arena pacuan kuda. Namun satu hal yang Hayati tidak ketahui, bahwa Khadijah berusaha memisahkan Hayati dari Zainuddin dan mempersatukan Hayati dengan kakaknya, Aziz.
Misi Khadijah berhasil, Aziz melamar Hayati bersamaan dengan datangnya surat lamaran dari Zainuddin untuk Hayati. Sekeluarga besar Hayati mempertimbangkan akan calon suami Hayati, dan berdasarkan adat istiadat setempat, Aziz yang terpilihlah sebagai suami untuk Hayati.
Zainuddin menderita. Ia terjatuh sakit sehingga diharuskannya berbaring selama dua bulan lamanya. Fisiknya melemah. Ditemani sahabatnya, Muluk, ia berusaha menceritakan segalanya. Muluk memberikan saran, bahwa Zainuddin harus melupakan Hayati dan membuat kehidupan baru.
Lalu Zainuddin pindah bersama Muluk ke Surabaya dan membuat kehidupan barunya sebagai penyair terkenal dengan menampilkan nama penanya, Shabir. Identitas lamanya sengaja ia tinggalkan. Pembaca syairnya hanya mengenalnya sebagai Shabir, bukan Zainuddin, termasuk Hayati.
Kehidupan Hayati dan Aziz makin lama makin surut. Hartanya kian menipis seiring dengan perbuatan Aziz yang hanya menghabiskannya untuk berjudi dan bermain perempuan. Mereka bertemu dengan Zainuddin di sebuah kesempatan dan tentunya membuat mereka tercengang begitu melihat kehidupan Zainuddin yang kian sukses. Rasa malu akan masa lalu berusaha mereka lupakan mengingat mereka sangat membutuhkan pertolongan Zainuddin untuk menyambung hidupnya.
Lalu Aziz kembali ke Padang meninggalkan Hayati di Surabaya bersama Zainuddin. Ia memberikan surat cerai sesampainya di sana, beserta surat permohonan maaf untuk Zainuddin agar bisa menerima Hayati kembali seperti dulu kala. Di dalam surat itu telampir sebuah kliping artikel yang memberitakan bahwa Aziz telah meninggal akibat bunuh diri.
Namun sayangnya Zainuddin telah menolak Hayati, sekalipun Hayati memintanya kembali untuk mencintainya. Ia justru meminta Hayati kembali ke tanah Minang dan meninggalkan Surabaya.
"Pantang pisang berbuah dua kali, pantang pemuda makan sisa!"
Hayati akhirnya menuruti keinginan Zainuddin untuk kembali ke Padang setelah menerima tiket sebuah kapal Van Der Wijck. Ia meninggalkan Surabaya dan menitip surat terakhirnya untuk Zainuddin lewat Muluk. Isi surat itu menceritakan akan perasaannya, dan juga permohonan maafnya. Namun sebelum Zainuddin sempat menyusul Hayati untuk menjemputnya kembali ke Surabaya, sebuah kabar duka datang. Kapal Van Der Wijck tenggelam, dan Hayati meninggal setelah sempat diselamatkan pihak medis.
Hati Zainuddin kembali hancur. Kali ini beserta hidupnya. Semangatnya untuk menghadapi hidup telah mati meninggalkannya, sehingga tak ada alasan untuknya bertahan hidup. Setahun kemudian Zainuddin meninggal, setelah kabar tentangnya sempat hilang tiba-tiba.
"Jangan sampai terlintas dalam hatimu bahwa ada pula bahagia selain bahagia cinta. Kalau kau percaya ada pula satu kebahagiaan selain kebahagiaan cinta, celaka kau Dik! Kau menjatuhkan vonis kematian ke atas dirimu sendiri!"
Buya Hamka

No comments: