Friday, March 14, 2014

[PARE 4]: SHOHIBUL HAMIIM


 
Mengambil dari pengalaman saat PPM dulu, dua minggu tinggal di kampung orang, meskipun singkat ternyata bisa membuat kenangan yang tak terduga. Setelah dua minggu di sana, saat paling haru adalah waktu mau pulang. Harus berpisah pada orang-orang baru yang ternyata di sana jadi akrab.
Nah, dari itu, aku pernah punya tekad buat nggak terlalu dekat sama calon teman baruku di sana. Kalaupun mau dekat, setidaknya sama orang Jakarta juga, supaya kalau kangen terjangkau. Hehe. Well, itu karena aku mengenal sifatku sendiri yang jadi a bit bizarre –entah kenapa- saat di Pare. Simpelnya, ubah kata ‘agak’ menjadi kata ‘sangat’ lalu kusanding dengan sifatku saat itu. Aku yang awalnya agak cengeng, saat di sana jadi sangat cengeng. Aku yang agak melankolis, saat di sana jadi sangat melankolis. Aku yang awalnya agak manis, di sana jadi sangat manis. *eh :p Dan itu terjadi, nggak tahu apa sebabnya.
Tapi, kita sama-sama nggak ada yang tahu apa yang terjadi di sana, bukan? Allah punya setting yang tak terduga akan dengan siapa kita bertemu nantinya.
Saat pertama kali menginjak maskan, aku dan Lele bertemu dengan sekawanan anak UIN Malang semester 4 di sebuah kamar. Setelah itu, mereka menjadi teman baik kami. Namanya Endang, Vero, dan Chusnul. Endang dan Chusnul jadi teman sekelas Lele, dan bahkan tanpa kuketahui sebelumnya, antara Endang dan Lele punya panggilan akrab masing-masing. Lele panggil Endang ‘Bunga’, dan Endang panggil Lele ‘Bobon’. Hahaha.
Lalu Vero menjadi teman sekelasku. Sayangnya saat itu, Vero lebih sering pulang atau bepergian, jadi suka absen kelas Aidina. So, aku nggak punya teman yang jadi BFF banget saat itu. Flexible seperti pada teman-teman yang lain. Masuk kelas subuh-subuh, menempati tempat duduk di dauroh yang dekat jendela, pulang, makan, tidur, sebelum masuk lagi. Nggak ada adegan menghabiskan waktu bersama teman baru di suatu tempat gitu. 
Dari kiri ke kanan: Lele, Endang, Aku.
 Setidaknya, itu terjadi sebelum aku berkenalan dengan Adiba, mahasiswi UNJ –yang aku sendiri lupa bagaimana akhirnya kami bisa menjadi dekat. Kami jadi duduk bersebelahan setiap kali masuk kelas. Cuma bedanya, Adiba rajin menjawab pertanyaan ustad. Beda sama aku yang kadang-kadang doang bisanya. -___-
Lalu, muncul Nadia yang datang terlambat. Dia mahasiswi UIN Malang yang pada akhirnya menjadi teman sekelas dan sekamarku. Thanks God, ternyata dia orangnya error. :p Tipikal mahasiswi yang nggak pintar-pintar amat, tapi juga nggak nakallnakal amat, terus nggak nurut-nurut amat, dan nggak rajin-rajin amat. Dan ternyata… itu juga terjadi pada kawanannya yang juga anak UIN Malang. Ariena dan Badi’ah.  Oh ya, meski begitu, Nadia itu berprestasi. Dia pernah menjuarai lomba pildacil di Lativi dulu. Jadi, beberapa kali saat di sana, ia sempat mendapat undangan untuk isi acara, entah di Kediri atau di Jombang, dan pulang-pulang membawa makanan dari pengundangnya, lalu dibagi-bagi ke kita.
Selain itu, Nadia itu teman yang praktis. Buat aku yang suka menulis sambil mendengarkan lagu, satu kamar dengan Nadia jelas beruntung. Nadia itu penyanyi, suaranya bagus, dan jelas nggak bisa jadi rival yang kece buat ditanding dengan suaraku. Pasti kalah telak! Hehe. Dia juga dengan senang hati akan menyanyi kalau diminta, jadi aku nggak perlu nyalain musik. Lagu kesukaannya Albi Nadak -dan itu entah berapa ratus kali diputar di ponselnya dan dinyanyikannya sendiri. Eugh! Sementara lagunya yang paling kusuka itu Rindu Sahabat, dan Hubbul Kholis (lagu remake berbahasa Arab yang diambil dari lagu Cinta Sejati OST Habibie-Ainun-nya BCL) Buat yang mau dengar suara dan lagu ciptaannya, cek di sini: http://www.reverbnation.com/#!/nadiamahfuzah (sekalian gue promote-in ya, Nad… ;p)
Bersama Nadia...
 Lalu ada Ariena, teman satu kampusnya Nadia dan Badi’ah yang bercita-cita jadi model. Dia punya panggilan khusus; mumatsilah -yang artinya artis! Hahaha. Suaranya unik parah. Banyak yang mau niru tapi sayangnya tidak bisa. Heuheu. Orang Tuban yang bahasa Jawanya lucu tapi natural. Awalnya, saat dia memperkenalkan diri di depan kelas, aku sempat ternganga. Suaranya sok imut abis dan tingkat pedenya bisa dapat rating empat setengah dari lima! Tapi, makin ke sana, setiap kali dia cerita, aku nggak bisa nahan ngakak. Sense of humor-nya juga bagus, jadi setiap kali di dekatnya, pasti ketawa. Dia tipikal mahasiswi yang sama kayak aku dan Nadia. Pokoknya kami berempat –dengan Badi’ah- bisa jadi discussmate yang solid. Oh ya, perlu digarisbawahi. Keunikan Ariena yang lain itu, dia gampang tak sadarkan diri. Kalau kalian membiarkan dia menunggu dari pagi sampai-sore, di tempat yang sebenarnya teduh dan tidak terlalu panas, dan makan yang cukup, dia bisa pingsan! Trust me, it works ;p. Meskipun begitu, Ariena satu-satunya orang yang bisa menyemprotkan gas air mata ketika saat perpisahan. Waktu itu, aku sedikit bersyukur karena di detik-detik perpisahan dengan teman-teman, aku nggak menangis. Sesuatu yang langka. Sampai dia datang, yang ternyata awalnya dia cengengesan, lalu kita bertemu, jadi kompakan menangis. Sama-sama kayak habis ditaburin bawang bombay di depan mata jadi menangis nggak berhenti-henti. Dan anehnya, di sela-sela menangis kita tertawa sambil bercanda menyalahkan masing-masing. Heuheu. Ariena, semoga kita bisa kembali reunian di surga, yaaa… *ini kalimat kita banget. Buat sebagian yang nggak tahu, jangan sensitif ya. ;p*
Bersama Ariena...
 Berhubung aku datang di saat liburan kuliah, jadi tanpa diduga, anak-anak kuliahan berkumpul di sana. Dan rata-rata berasal dari UIN di berbagai cabang dan jurusan yang hampir sama. Antara BSA dan PBA. Kami jadi mudah sharing, dan bisa membangun koneksi. 
Sekelompok mahasiswi, kecuali si junior yang paling kanan. ;p (dari kiri: Gita, Ariena, Ariza, Lele, Badi'ah, Fhea, Nadia, Dwi.)
 Setidaknya, dalam hal ini, aku terpaksa melupakan tekadku untuk tidak terlalu dekat sama teman baru di sana. Berada di tengah mereka yang ternyata sudah seperti keluarga, menyuarakan rasa syukurku pada Allah yang menempatkanku di tempat yang tepat. Teman-teman yang error memang bisa memudahkan proses adaptasi sehingga mudah betah. Oh ya, buat teman-teman yang belum kuceritakan di sini, maaf belum bisa dijabarkan satu-satu. Tapi, percayalah. Aku sayang kalian! ^^
-AF:)

5 comments:

Arina Istiqomah said...

Spesial parah pake' bingit, semua temanmu aneh gak jauh beda sama kamu fey, wkwkwkwk

Ila Rizky said...

punya teman dekat di mana aja asyik kan, mba? ;) jangan takut terlalu dekat. toh tetap di belahan dunia yang sama2 dihuni :D apalagi kalo bisa saling sharing dan seru-seruan bareng, btw, wajah nadia kayak orang arab ya?

nadia mahfuzah said...

aaaahh sebel sebel sebeel! baca ini bikin pengen balik lagi tau ke paree.. pangen nyemplung di cerita kita kemarenn.. aku kangen kaliaaaan...

nadia mahfuzah said...

aaaaah sebel sebel sebeel.. baca ini bikin pengen balik lagi ke pare trus ketemu kalian lagii.. kangeen tauuu

Badiatul Laihah said...

ahhhhh Fheaaa aku uda baca berkali-kali tulisanmu tentang sejuta kenangan kita di Pare... membuatku semakin rindu kaliaannnn :-(