Monday, June 1, 2015

KOST MEMORABILIA



“Nggak kerasa, ya, kita udah satu minggu kuliah. Satu minggu resmi jadi mahasiswa. Padahal kayaknya baru kemarin OSPEK. Bangun pagi, ribet ini-itu, pakai rumbai-rumbai nggak jelas.... Jalannya waktu emang suka nggak berasa. Tau-tau nanti udah UAS, ganti semester, tau-tau kita udah nggak di asrama dan pindah ke kost-kostan, terus tau-tau punya adik tingkat, udah ada yang di-OSPEK lagi, abis itu KKN dan PPKT, terus kita skripsian….”
Yeps, itu percakapan kami—aku, Dita, Indah—waktu seminggu kita resmi jadi roommate. Waktu itu kami masih di asrama. Masih jadi anak bawang banget di kampus dan lagi adaptasi jadi anak kuliahan. Percakapan itu juga masih jadi topik basa-basi—sekaligus jadi topik tebak-tebakan, “beberapa tahun lagi kita jadi apa, ya?”—belum benar-benar kejadian…, kayak sekarang.
Untuk beberapa alasan, kadang-kadang khayalan bisa jadi bumerang buat diri sendiri; sering bertanya, “nanti kita jadi apa?” atau “ke depannya bagaimana ya?” tanpa ikut menimbang ujung dari inti pertemuannya itu sendiri, “apa yang terjadi kalau suatu hari nanti, kita berpisah?”
Oke, mungkin waktu itu alasannya karena kita sendiri—atau mungkin di sini aku aja—yang nggak tau sebenarnya kita bakal berapa lama jadi roommate. Karena mungkin aja selepas keluar dari asrama, kita memutuskan untuk kost di beda-beda tempat. Tapi who knows, kita bertiga—ternyata memilih jalur simple—untuk kembali menjadi roommate di kost-kostan.
Sempat nggak nyangka juga, sih, bisa langgeng sampai empat tahun sekamar. Banyak banget yang dilewati. Dari ketawa-ketawa karena hasil review cerita yang terjadi seharian, sampai ketawa-ketawa heboh gara-gara serial Running Man dan teman-temannya. Dari sedih karena punya masalah, sampai sedih karena nonton drama Korea.
Bakalan kangen banget sama kalian; buka pintu kamar dan bilang “I’m hoooome…” terus laporan atau dengar laporan yang terjadi seharian.
Melewati waktu sampai nggak tau waktu karena tugas. Malam jadi siang. Siang tetap siang. Aku butuh teh, Dita butuh kopi, Indah kadang-kadang teh, kadang kopi, kadang susu. Tau-tau perlu masker khusus buat mengatasi kantung mata yang makin menebal….
Pinjam-pinjaman novel—biasanya di sini aku yang mulai duluan memprospek Dita sama Indah. Dita sih suka baca, Indah nih yang perlu didorong minat bacanya :D Biasanya, aku bawa novel dari rumah, terus kalo seru digembor-gemborin ke mereka. Beberapa novel berhasil dibaca sama Indah (dia gampang kaget sama novel tebel, btw =D) meskipun awalnya dia bilang; “gue lagi banyak tugas, nggak tau kapan bisa bacanya….”
 Transfer-transfer-an film, drama, variety show…, kadang nonton bareng juga sampai ketawa-ketawa nggak tau diri atau nangis sambil sembunyi-sembunyi (kita punya selera tontonan yang beda tipis, btw). Di luar itu, kita juga saling bagi info tontonan yang lagi hits dan streaming di YouTube—kayak waktu itu nonton Stand Up Comedy 4, sitcom Tetangga Masa Gitu atau acara talkshow biar nggak ketinggalan berita….
Shopping satu semester sekali. Sebenarnya ini bertujuan untuk meminimalisir waktu rutinitas pagi; berdiri di depan lemari sebelum mandi—lebih dari lima menit—sambil bergumam, “hari ini pake baju apa ya….” Lalu mengeluarkan beberapa baju, minta pendapat kanan-kiri ‘lebih-cocokan-yang-mana’. Tapi apa yang terjadi? Meskipun udah shopping juga, kebiasaan bingung lebih dari lima menit di depan lemari juga nggak ilang-ilang. Mungkin udah bawaan dari zaman masih jadi anak bawang kali ya….
Nyobain resep masakan baru ini-itu. Di antara kita bertiga, Indah yang paling bisa masak—tapi sayangnya jarang praktik di kosan karena syibuk. Seringnya, Indah jadi konsultan resepku jadi aku yang (mal)praktik *duar*. Tapi untungnya, sih, sejauh ini nggak ada yang keracunan alhamdulillah. Syukur-syukur kalau pada jadi kegemukan… *ini intrik orang diet, anw* hahaha! Apa? Dita? Di antara kita bertiga, dia paling terkenal kalau masak itu nggak berasa. Masak apa pun itu. Mau omelet, soup, bihun….
Ngejadiin lahan kosong di kamar sebagai lantai senam demi menjunjung tinggi kebugaran. Kadang-kadang aerobik, pernah juga cardio workout, dan seringnya…, dimulai dengan mencak-mencak, “ini gaya apaaa?” dan diakhiri dengan nyanyian, “Nenek… sudaaah… tuaaa…” *sambil periksa punggung dan betis yang mudah-mudahan nggak ketuker….
Diskusi soal boyband dan girlband terbaru, lagu-lagu mereka, soundtrack drama, lalu diputar seharian lagunya—selama berhari-hari sampai bosan….
Menghabiskan pagi di akhir pekan dengan jogging di track Situ Gintung, pulang-pulang ke pasar dadakan di Kampus 2, dan bawa kue pancong….
Diskusi soal gizi, kalori, makanan, macam-macam karena aku—yang lupaan sama dunia Sains—ketemu mereka yang anak Sains….
Bagi-bagi info soal online shop, ngeributin isi katalog—apalagi katalog kosmetik, karena kita semua pada nggak kayak cewek-cewek UIN lain yang ke kampus aja rasa fashion show. Tapi kadang-kadang itu yang bikin kita mikir, “ini kayaknya perlu juga deh, jadi ‘cewek sesungguhnya.” Lalu ujungnya bareng-bareng order barang kembaran….
Cerita tentang dosen dan teman kuliah yang suka bikin uji mental, cerita tentang konflik keluarga yang suka bikin pikiran jumpalitan, teman organisasi, teman profesi….
Curhat-curhatan soal gebetan, kakak tingkat (biasanya Dita yang do that LOL), ex-gebetan, pacar, mantan, atau bahkan cowok yang lagi ngedeketin. Saling minta pendapat tentang si dia lebih baik digimanain, dan ends up bilang; “nih cowok apa banget,” atau “kok ada ya cowok kayak gitu….”
Cerita tentang teman yang udah nikah, dan berakhir dengan pertanyaan, “ini umur gue berapa, sih? Kok udah pada nikah aja??”
Lalu…, menikmati silent moment bersama. Believe it or not? Selama jadi roommate, kita jaraaaaang banget slek-slekan, dendaman apalagi sindir-sindiran. Nyaris nggak pernah. Tapi kita justru sering diem-dieman—sampai orang di luar kita yang pertama kali ketemu pasti berasa dikacangin. Well, let me explain the meaning of diem-dieman yah…. Maksudnya itu bukan berarti kita lagi marahan dan kawanannya, tapi justru lagi me time; kayak aku lagi baca novel atau nulis, Dita nonton film, dan Indah lagi ngerjain tugas…, kita semua semacam punya peraturan tak tertulis dan hanya bisa dibaca sama kita bertiga kalau kita nggak mau diganggu. That’s all. Jarang orang ngerti jenis ‘kedamaian’ a la kita ini.
 Kita bertiga punya banyak kesamaan yang lahir dari karakter yang berseberangan.
Kalau dari tampilan luar, aku lebih suka pakaian yang girly dan teen abis, suka warna cokelat, tapi nggak jarang juga pakai baju warna cerah. Dita lebih suka baju kasual, dark, cenderung manly dan polos, jarang dia punya baju dengan corak banyak dengan potongan yang unik-unik. Kalau Indah, dia suka pakai baju kasual, feminin, dan warna-warna pastel.
Saking akrabnya sama ciri-ciri kita sendiri, sampai-sampai kalo belanja dan minta penilaian satu sama lain, jawaban yang sering dikeluarin pasti begini, “ini mah Al banget,” atau “Dit, yakin mau pilih ini? Baju lo dark terus,” dan biasanya jarang berdebat sama selera Indah karena selera baju dia simpel dan kalem….
Selera musik kita juga gitu; aku sama Indah rada mirip-mirip, sukanya lagu yang bisa dinyanyiin (dan kalo bisa sekalian yang menyayat hati), sedangkan Dita, lebih suka lagu yang nggak bisa dinyanyiin dan kalo didengerin aja suka bikin ngos-ngosan….
Guys, you know, waktu nulis ini, rasanya sedih….
Ada perasaan aneh yang bikin terdiam cukup lama saat memandangi barang-barang masuk di dalam kardus, siap dibawa pulang ke rumah. Kemudian berpikir; segini cepatnya ya empat tahun? The moment I met them as my roommate, the moment I have them all as my second home—atau bahkan, bingung juga yang mana yang first home di sini saking banyaknya rahasia aku yang mereka tau. Kalau dulu kita suka dengerin lagu Dream High bareng-bareng, sekarang kalau dengerin lagu itu, yang kebayang cuma suasananya. Lalu lagu itu bagian dari cerita.
 Kayak adegan lain juga yang precious banget; saat aku tiba-tiba lost in words pas lagi nulis dan mereka jadi main tebak-tebakan, mereka jadi saksi pertama ketika cerpen pertama nembus di majalah dan novel perdana lahir setelah udah ngarep-ngarep begitu lama…, rasanya kayak nggak sadar; we already grew up together.
But for all, muuuuuuch thanks, Guys! Pardon my memory yang cuma bisa ingat kejadian empat tahun dalam ratusan kata. Padahal mah, banyak banget ya….
Maaf juga atas (banyaknya) kesalahan… aku yang suka egois lah, yang suka being sarcasm lah, gampang geregetan lah, being childish…, tapi kalian justru pengertian. Dan di situ juga, aku merasa terseimbangi sambil belajar how to be a great adult….
 Di mana-mana, rasanya berpisah kayaknya udah sepaket sama sedih. Padahal kita bisa kapan aja ketemuan kalau kita mau, toh masih terjangkau, kan ya? Tapi nggak tau lah, I can’t avoid my tears sampai berusaha banget buat nggak ngebahas soal flashback, say thanks, sorry, and goodbye….
Someday, mungkin kita bakalan ketemu lagi dalam keadaan yang berbeda. Mungkin dalam status yang berbeda, rencana ke depan yang berubah, lalu dan yang lainnya. Di saat itu, mungkin ada kejadian “tau-tau” lainnya karena kita suka nggak sadar perubahan waktu yang cepat, dan apa aja yang udah kita gerakkan.
…Am gonna miss ya, Guys!
 
Blue: Dita, Brown: Indah, Black: Meeeh :D (This is the latest pict we took when we had hang out together. Waktu itu aku sama Indah jadi fashion consultant dadakannya Dita yang mau berangkat ke Korea. Jadi kita ke mall terdekat, gedebukan beli baju yang nyesuaiin dress code acara, karena mepet deadline banget. Haha! And we end up the 'traveling' like this: pendinginan = makan es krim =D)
PS:
-          Kita belum kesempetan beli sepatu iwearup bareng-bareng lho, Gengs! Padahal mah waktu itu bilangnya mau pas gajian kan ya…. *lalu liat tanggal* #teuteup =))
-          Kita belum main ke rumah satu sama lain. Jadi ke Karawang setelah Indah PPKT? Gue sih feel free ajaaa… #bilangajamaujalan-jalan #laluskripsinya……
-          Kabar-kabarin ya kalau udah wisuda. Mudah-mudahan kita barengan. Aamin!
-          Pokoknya, kalau ada yang nikah duluan, awas kalo nggak undang-undang! *lirik tajam ke Indah* *sambil asah pisau*

-AF

3 comments:

Choirul Huda said...

baca artikel ini (meski panjang banget) jadi ingat waktu jadi anak kos :)
emang seru banget sih, kalo ngingat nostalgia susah seneng bareng2 satu kamar...

FHEA said...

Thanks for visiting :) sengaja dibuat panjang emang =D

Zacharias Maturbongs said...

I feel you. Minggu pertama setelah berpisah dng temen kost yang sama2 berjuang selama 4 tahun itu minggu paling berat. Bakalan kangen berat.