Thursday, October 22, 2015

[CERPEN] ROSES OF THE RAIN






Lelaki yang tengah menghentikan sepeda motornya di salah satu pinggiran jalan raya itu menatap nanar ke depan. Langit mulai menunjukkan tanda-tanda kegelapannya meski jam masih menunjukkan pukul dua belas siang. Gerombolan angin berembus menyapa kasar pori-pori punggung tangannya yang tidak dibungkus sarung tangan itu, dan nyaris menerbangkan secarik kertas di sebelah tangan—kalau saja ia tidak kuat menggenggamnya.
Di kertas itu, tertulis sebaris alamat rumah, dan sebaris alamat sebuah taman pemakaman.
Sebenarnya, ia tidak ingin berada di sini—menempuh jarak puluhan kilometer dari tempat tinggalnya untuk mendatangi seseorang yang keberadaannya hanya bisa dilihat dari gundukan tanah. Ia sendiri memang tidak berniat sama sekali untuk hadir sampai ke sini—kalau saja temannya yang berambut gimbal itu tidak menyuruhnya nyaris memaksa.
Ia masih tidak menginginkan ada di sini. Karena bagaimanapun, ia tidak ada sangkut pautnya dengan kematian gadis…, itu, tiga minggu yang lalu.
*
“Jadi, kamu orangnya?!”
Itu kalimat pertama yang ia dapatkan ketika menyebutkan nama di depan pemilik rumah—yang alamatnya tertulis di secarik kertas yang ia genggam tadi; sepasang suami-istri paruh baya. Sang istri langsung menyambarnya dengan kalimat tanya bernada tinggi, sementara sang suami berusaha menenangkan istrinya—meski tatapan tajam dan penuh menyelidik tidak lepas darinya.
“Lebih baik kalau kamu tidak pernah ke sini sama sekali daripada datang tidak ada gunanya begini!” desis sang istri paruh baya itu tadi, belum selesai melepaskan amarah.
“Ma….”
“Gunanya orang ini apa, Pa?! Kedatangannya nggak akan bisa mengubah pikiran anak kita! Nggak akan menyembuhkan sakit hatinya. Nggak akan menghidupkannya lagi!” Kali ini sang istri berseru histeris. Mengabaikan sang suami yang masih berusaha membuat suasana terkendali. “Kalau dia tidak pernah bertemu orang ini…” Sang istri menunjuk kepada lelaki itu. “Maka tidak akan begini jadinya.”
Lelaki itu bergeming. Rasanya ingin menghardik balik kalau saja ia tidak ingat dengan siapa ia berhadapan. Ia ingin sekali bilang bahwa ia jengah terhadap perlakuan putri mereka yang terlalu mengekangnya. Atau paling tidak ia ingin bilang kalau ia menyerah dengan sifat pencemburu putri mereka yang membuat dirinya terasa sulit bergerak. Atau sifat-sifat lain putri mereka yang menjadi alasan kuatnya mengapa ia lebih baik menyelesaikan hubungan sebelum semuanya bergerak lebih jauh.
Ia butuh sebuah hubungan yang membebaskan. Dan itu tidak ia dapatkan ketika masih bersama dengan putri mereka.
Sang istri pemilik rumah ini masuk ke dalam rumah dan beberapa saat kemudian datang membawa selembar kertas yang terlipat. Disodorkannya dengan kasar pada lelaki itu—masih lengkap dengan kobaran api di matanya. “Kamu baca ini. Pergi ke makamnya. Meskipun sebenarnya kamu sudah sangat terlambat untuk meminta maaf!”
Kalau saja bukan hasil bujukan temannya yang berambut gimbal itu, ia tidak akan datang ke sini—apalagi sampai rela dihardik oleh orang tua dari perempuan yang terlalu dibesarkan dengan sifat manja, beserta khayalan-khayalan negeri dongengnya yang kelewat batas. Sekali lagi, ini bukan salahnya. Apa pun yang bersangkutan dengan perempuan itu setelah mereka berpisah—termasuk dengan akhir jalan hidup perempuan itu, bukan lagi bagian dari tanggung jawabnya.
Ia hanya ingin melakukan—apa yang kata temannya itu—harus lakukan. Itu saja.
*
Langit mulai menurunkan hujan kecil-kecil sehingga bunyinya terdengar mengetuk helmnya. Lelaki itu tidak ingin sejenak menepi, meskipun ia bisa memperkirakan bahwa jarak menuju makam perempuan itu masih jauh. Lebih baik menerobos hujan, baginya. Dan ia juga tidak masalah jika sampai pada pemakaman dalam keadaan hujan. Ia ingat perempuan itu menyukai hujan, bunga mawar, baju-baju putri di kerajaan—seperti dongeng-dongeng dari film yang pernah ditontonnya.
Kalau saja panjangnya jarak di antara kita tidak mengalahkan besarnya egoku, mungkin yang terjadi tidak seperti ini; kehilangan cara membuatmu bertahan untukku. Bunyi pesan dalam selembar kertas yang terlipat tadi menggema di kepala lelaki itu. Tulisan perempuan itu, yang konon katanya, ditulis sebelum perempuan itu pergi. Kalau saja aku tahu caranya bertahan setelah berpisah darimu, mungkin aku tidak begini rapuh.
Pandangan lelaki itu buyar. Entah karena kaca di helmnya semakin diguyur hujan atau karena hujan itu sendiri mulai menyambangi matanya.
Kalau saja aku ada kesempatan bertemu denganmu, akan kulakukan demi memperbaiki segalanya. Aku tidak pernah berhenti berharap kau segera melihatku, lalu setuju untuk bertemu, kemudian aku berjanji untuk memperbaiki kesalahanku dan memulai dengan awal yang baru.
Saat itu, bayangan pertengkaran-pertengkaran yang terjadi di akhir komunikasi mereka sebelum berpisah, terserak—sementara bayangan perempuan itu menangis menyesal seperti bunyi dalam suratnya bersatu secara utuh memenuhi isi kepala. Semuanya tumpang tindih menguras emosinya. Lelaki itu masih ingat sebab dan bagaimana mereka bertengkar sebelum berpisah, sama seperti ingatnya bagaimana ia tidak ingin disalahkan dalam posisi itu. Perempuan itu terlalu banyak aturan, memang benar. Tapi kemudian ia sadar, mungkin ia juga yang belum bisa meyakinkan perempuan itu supaya percaya terhadap apa pun yang dilakukannya, supaya mereka berdua berada dalam titik saling memberi kenyamanan.
  Ini pertama kalinya ia mendatangi makam perempuan itu, dan karena itu pula ia mempercepat kemudi motornya. Mengabaikan hujan yang makin deras, atau tubuhnya yang makin kedinginan, atau lampu lalu lintas berwarna merah yang menyala, atau…, sebuah truk besar yang melaju cepat di hadapannya. Ia sendiri menjadi lepas kendali. Hal yang terakhir ia dengar adalah bunyi decitan bersandingan dengan bunyi benturan yang sama-sama keras. Tubuhnya sendiri terpelanting dan terseret di aspal sehingga sulit bergerak.
Sementara hal yang terakhir ia lihat adalah seorang perempuan bergaun putih, berjalan pelan di sisi jalan besar dengan kehujanan, dengan beberapa tangkai mawar merah yang digenggam di tangannya. Sementara beberapa kelopak merah di antaranya tersebar, berserakan di sepanjang jalan.
*
-AF
*tulisan ini disertakan dalam tantangan #NulisBarengAlumni #KampusFiksi bertema Hujan*

1 comment:

Mas Agus said...

Lelaki itu mati juga?