Wednesday, January 25, 2017

DAY 19: ABOUT MY FIRST LOVE


Mungkin tulisan ini lebih cocok kalau disebut first crush kali ya. Soalnya kalau berbicara tentang first love bakalan kejebak di pertanyaan-pertanyaan, “Eh, emangnya kalau suka, berarti gue jatuh cinta sama dia, ya? Terus tanda-tanda jatuh cinta sendiri itu kayak apa? terus, terus, terus…” Nggak habis-habis. Jadi, untuk mempersingkat waktu dan paragraf, maka langsung cerita aja yes?
Pertama, terjadi sekitar kelas 5 atau 6 SD. Si dia—yang mari kita sebut aja sebagai Spiderman—duduk sebangku sama aku sesuai dengan instruksi acak dari ibu wali kelas. Orangnya pendiam, jadi awalnya kami malah nggak saling akrab. Tapi karena kami ditakdirkan berbagi bangku dan meja, jadi tau satu sama lain. Dia yang awalnya (kukenal) pendiam, ternyata petakilan sehingga membuat kami saling meledek satu sama lain—dan itu menjadi rutinitas. Nggak banyak yang aku tau tentang si Spiderman selain dia rumahnya cukup jauh dari sekolah jadi mengharuskannya naik angkutan atau jemputan ke sekolah, punya kakak cowok dua tahun di atas kami yang bersekolah sama dengan kami, dia lahir tanggal 6 Juni, sama dia nari lagu Di Atas Normal-nya Peterpan sama gengnya ketika kami dapat tugas menari perkelompok untuk pelajaran Kertakes. Sekarang, si Spiderman ini nggak tahu ke mana. Reuni SD pertama kali saat kami kelas 1 SMA. Setelah itu ada reuni satu tahun sekali setiap kali bulan puasa, dan dia nggak ada. Aku sendiri sejak SMP yang membuat lebih banyak menetap di Jakarta jadi lost contact sama teman-teman SD dan baru ketemu lagi via Facebook—dia nggak ada di pertemanan kami. Aku juga nggak tahu dia sekolah di mana selanjutnya. Begitulah akhir kisah aku dan dia. #tsah #bolehlohnariIndiadisini
Kedua, kalau tentang first boyfriend itu terjadi dua tahun setelahnya. Dia—yang kita sebut saja Batman—aku kenal karena dikenalkan temannya yang juga temanku, sebut saja orang ini si Giant. (iya, Batman sama Giant beda jauh. Beda film pula =))).  Kami bertiga satu sekolah dan saat itu dia udah lebih dulu jadi anak Pramuka. Mereka termasuk gigih dan cukup pentolan jadi masuk ke Pasukan Koordinasi (yang udah aku ceritain detailnya di day 16). Si Batman ini ketua salah satu regu PasKor (di PasKor cuma ada dua regu) sementara si Giant anggota di regu sebelahnya. Komunikasi kami sendiri terbatas oleh ruang dan waktu (#tsah), caranya; kalau lagi liburan di rumah, komunikasi cukup lancar karena kami bisa berkirim sms atau ngobrol di telepon. Sementara kalau lagi di sekolah, karena peraturan asrama nggak ngebolehin bawa gadget dan teman-temannya, juga nggak ngebolehin komunikasi antarputra-putri, maka kami surat-suratan dengan cara ngasih kode gue-bakal-ngasih-surat-ke-lo-di-sini. Biasanya dia ngasih surat balasan ke kelas putri (iya, kelas kami terpisah) yang ditaruh di laci meja kelasku, atau kalau lagi ke daerah yang bisa dilewat putra dan putri lalu kebetulan ketemu dia, langsung kasih kode gue-drop-suratnya-di-sini-nanti-lo-harus-ambil, tanpa suara. Yang kalau dipikir-pikir, mungkin aku titisan Angelina Jolie sejak dini. :’)
Surat-suratnya masih kusimpan beberapa, lolos dari razia bagian keamanan asrama, padahal kalau ketahuan bisa disita dan kena pelanggaran berat. Sekarang kadang buat referensi nulis teenlit kalau lagi stuck buat ngebangun soul-nya—meski endingnya ngakak geli sendiri. =))
Aku sama si Batman bertahan 8 bulan, dan sekarang kami lost contact –selain saling follow atau berteman di akun sosial media. Nggak ada interaksi sama sekali. Mungkin ketemu si Batman juga sekitar tiga tahun lebih yang lalu, tanpa sengaja, berpapasan, dan dia nanya dengan wajah bertanya-tanya slash menebak-nebak slash bingung slash bikin lawan bicaranya juga bingung, “Eh, lo siapa ya?”
Sementara yang ada di pikiranku, nih orang emang long term memorinya lemah, atau karena gue mantannya jadi dia (me)lupa(kan) gue, atau mantannya emang banyak sehingga lupa satu-satu termasuk gue yang udah long timeeeee ago banget, atau jangan-jangan yang dia lupain bukan hanya gue, tapi dirinya sendiri? Wah. Wah. Wah.
Dan terakhir kali aku dengar kabar dia, dia akan menikah dengan pacarnya, yang merupakan adik kelas kami. Masih simpang-siur dan belum menetapkan tanggal. Jadi, mari kita doakan semoga lancar, berkah,  sakinah. Dan mohon doa juga mudah-mudahan dia atau teman yang lain nggak baca iniiiiiii. Akika malu, cyin! Menurut agama dan kepercayaan masing-masing, berdoaaaa, mulai!
Selesai.
Lanjut?
Ini yang Ketiga, sebagai penutup. Kalau nggak salah ini waktu kelas dua SMA. Dia itu cowok yang dingin. Punya tatapan mata yang tajam, dan sedikit berbicara. Suatu hari aku ada perlu sama dia yang kemudian menyeret aku ke perpustakaan sekolah karena dia biasa ‘nongkrong’ di sana. Sebelum aku samperin dia, aku ngelihat dia dari kejauhan kalau dia terganggu sama teman-teman yang berisik. Begitu aku samperin, pelan-pelan aku kasih tahu maksud aku ketemu dia, dia bilang, “Barusan saya melempar pulpen ini ke mereka karena berisik. Saya nggak mau pulpen ini balik ke saya karena saya berisik sama kamu!”
Terima kasih buat yang repot-repot baca cerita ketiga. Apalagi buat kalian yang percaya itu ceritaku (uhuk). Mungkin masa-masa 2002 kalian harus dieuphoriakan (kembali) sama Ada Apa dengan Cinta. :p

-AF

5 comments:

Heru haeruddin said...

Itu yg nomer 3 apaaaaaaaan.......

-_____-

Fussythoughts said...

Nomor 3 itu kayaknya banyak jadi 1st crush cewek2 seindonesa ya.... 😅😅

The Dummy Cook said...

Asem yang terakhir! XD

btw, first crush-ku waktu pertama kali ketemu literally pake kostum superman. Harusnya kunamain superman ya. #apasih

Yenita Anggraini said...

Dem!

Jadi kamu cewek yang narik cowok aku ke perpus?!!!

FHEA said...

Heru: no 3 bukan mantanmu kok, Ri ;/
Fussythoughts: terima kasih mbaknya, yang udah mampir ke sini. :)
Tansis:Wah, tansis seleranya pas masa kecil superhero juga ternyataaaa =))
TanGi: ih dia mah emang tukang ngejogrok di perpus, tan. aku nggak narik-narik kok. :( *apazi*